EVONEWS
Now Reading:
TITO DAN OOT-n
Full Article 7 minutes read

TITO DAN OOT-n

CIANJURUPDATE.CO – Siapa Tito? Dialah Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A., Ph.D (lahir di Palembang, Sumatera Selatan, 26 Oktober 1964), adalah seorang perwira tinggi polisi yang saat ini menjabat sebagai Kapolri.

Saat Jenderal Bintang Tiga Termuda dengan banyak Prestasi di antara: Penangkapan Tommy Soeharto, pada 2001. Tommy ditangkap dalam kasus pembunuhan hakim agung Syafiudin. Penangkapan teroris Azahari Husin, saat memimpin Densus 88 Polda Metro Jaya, tahun 2005, ia menangkap teroris Azahari Husin, dan kelompoknya di Batu, Malang, Jawa Timur.

Azahari merupakan seorang insinyur Malaysia yang diduga kuat menjadi otak dibalik bom Bali 2002, dan bom Bali 2005, serta serangan-serangan lainnya yang dilakukan Jemaah Islamiyah. Penangkapan puluhan DPO konflik Poso, pada 2007.

Atas prestasinya, Tito mendapat penghargaan memimpin operasi antiteror di daerah konflik Poso, Sulawesi Tengah. Tahun berikutnya, Tito pun menulis buku “Indonesian Top Secret: Membongkar Konflik Poso”.

Ketika menyampaikan tanggapan maraknya radikalisme yang dilakukan oleh Oknum Ormas Terterterter-ntu (OOT-n), dalam sebuah diskusi bertajuk “Membedah Gerakan Radikalisme-Terorisme dan Solusinya”, Ia katakan, unsur terpenting dari radikalisasi adalah adanya proses transfer ideologi.

Proses itu sebenarnya memiliki dampak positif dan negatif terhadap pola pikir seseorang dalam memandang sebuah ajaran atau pemahaman.

Radikalisasi bisa berdampak positif bila mengarah pada pendalaman sebuah ajaran. Namun, bisa menjadi negatif, jika meyakini cara kekerasan dalam menyebarkan suatu pemahaman. “Kalau radikal dalam memahami agama kenapa tidak. Tapi kalau menggunakan kekerasan, itu yang berbahaya,” ujarnya Tito, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Kamis (19/1/2017).

Lima cara dalam mencari solusi pemberantasan terorisme, lanjut Tito, disiplin ilmu komunikasi bisa menjadi pisau analisis yang signifikan, jika melihat transfer ideologi sebagai akar persoalan. Dari sudut pandang ilmu komunikasi maka ada lima unsur yang terlibat dalam transfer ideologi, yakni pengirim informasi, konten informasi, penerima, media, dan konteks sosialnya.

Ada lima cara yang saat ini dilakukan untuk mencegah proses radikalisasi. 1) menetralisasi orang-orang yang berpotensi menjadi sender atau orang yang melakukan perekrutan. 2) melemahkan ideologi radikal yang mereka coba sebarkan dengan membuat ideologi tandingan yang bersifat moderat. 3) menyebarkan ideologi tandingan tersebut kepada kelompok masyarakat yang rentan menjadi sasaran radikalisasi. 4) dengan mengawasi media yang menjadi sarana penyebaran paham radikalisme. 5) pahami konteks sosial dan budaya yang ada di setiap lapisan masyarakat.

“Misalnya pada kasus Poso, yang jadi konteks penyebab utamanya itu adalah dendam. Maka, proses transfer pemahaman radikal itu bisa dicegah jika aparat penegak hukum memahami semua unsur yang ada,” tutur Tito.

Di sisi lain, Tito meyakini upaya penanggulangan terorisme tidak akan berhasil jika hanya dilakukan melalui ranah penegakan hukum. Menurut Tito, saat ini diperlukan adanya ideologi tandingan yang bersifat moderat untuk meredam maraknya penyebaran pemahaman radikalisme di masyarakat.

“Terorisme tidak bisa ditangkal hanya dengan menangkap dan menembak pelaku. Counter ideologi dilakukan dengan memoderasi narasi radikal mereka,” kata Tito.

Lanjutnya bahwa peran para ahli agama sangat diperlukan untuk membantu pemerintah memberantas terorisme. Sebab, penyebaran paham radikal kerap dilakukan oleh kelompok teroris melalui narasi ideologi dengan mengutip ayat-ayat kitab suci yang multi-interpretasi.

Dia mencontohkan konsep Islam Nusantara di kalangan Nahdlatul Ulama yang merupakan salah satu contoh ideologi tandingan. Jika dilakukan secara intens, kata Tito, maka konsep Islam Nusantara bisa mencegah upaya radikalisasi kelompok teroris.

“Ini yang harus intens karena Islam Nusantara itu kan moderat dan berlandaskan kearifan lokal,” ucapnya.

Kesimpulan dari pernyataan Jenderal Tito adalah wacana Islam Nusantara yang secara jenerik yang dimaksud adalah NU. Kenapa NU? Karena Ormas keagamaan yang paling besar jumlah anggota dan pengaruhnya adalah NU, kemudian Muhammadiyyah, Perti, PUI, Persis, al-Washliyyah, Nahdlatul Wathan, Jama’ah Tloriqah, PITI, Matla’ul Anwar, dan lain-lain.

NU yang berdiri 1926 secara perlahan dan konsisten-hingga sekarang memilih: 1. Sikap kemasyarakatan (adaptif/jaga tradisi, tawazun, tasammuh, tawassuth, amar ma’ruf nahy munkar, i’tidal, dakwah bilhikmah walmau’idzatil hasanah), 2. Pemikiran keagamaan (al-muhafadzah ‘alal qadimish shalih-jaga tradisi, wal akhdzu biljadidil ashlah-kembangkan inovasi, al-ishlah ila ma huwal ashlah tsummal ashlah fal ashlah-pengembangan kebaikan), 3. Prinsip fikrah (tatlow wuriyyan-dinamis, tashwifiyyan-jernih, tawassutliyyan-moderat, manhajiyyan -metodologis), 4. Prinsip harakah (tahfidzan-menjaga, taqwiyyan -menguatkan, sam’an-mendengar, tlo’atan-setia, tawaddudiyyan-ramah, tarhimiyyan-kasih sayang), 5. Tanggungjawab organisasi (Diniyyah-keagamaam, wathoniyyah-kebangsaan, ijtima’iyyah-kemasyarakatan), 6. Sikap persaudaraan (Ukhuwwah Islamiyyah, ukhuwwah watlaniyyah, ukhuwwah basyariyyah).

Ormas keagamaan lainnya seperti Muhammadiyyah, Perti, PUI, Persis, al-Washliyyah, PITI, Matla’ul Anwar, Nahdlatul Wathan, Jama’ah Tloriqah tentu memiliki konsistensi yang sama dengan NU namun saya kurang memiliki data tentang perjalanan dan kiprah mereka.

OOT-n

Siapa OOT-n? Dalam Frame saya, mereka adalah Oknum Ormas Terterter-ntu, yang kiprah keormasannya ‘gak tahu’ arah, clingak-clinguk kebingunan dan gagal paham terhadap konteks sosial-budaya Nusantara dimana mereka hidup dan mencari penghidupan. Setidaknya ada 6 ormas yang menurut Tsamara Amany (Lihat, Redaksiindonesia.com/, Jan-17, 2016) yg sekarang ini salah satunya sudah dibubarkan pemerintah.

Menurut saya, Nusantara ini Allah ciptakan berbeda dengan negeri Muslim lainnya, Muslim berjumlah super dengan keunikan-keunikan yang mungkin bisa ditemukan di baldah yang lain tapi tidak bisa merawat kebhinekaan dan keragamannya. Islam hanya dijadikan alternatif bagi bangunan budaya dan tradisi lain selainnya harus dipinggirkan. Beda dengan Islam Nusantara. Bagiku, bangga dan syukur adalah keniscayaan. Kesuperan jumlah ummat Islam di Indonesia tidak jumawa menarik diri menjadi negara agama tapi mentahbiskannya sebagai negara Pancasila.

Bukan negara agama, juga bukan negara sekuler, tapi Negara Pancasila yang dipikirkan oleh keislaman Soekarno, Hatta, Agus Salim, Wahid Hasyim, Kasman Singodimejo, dan lain-lain, yang menurut para ulama dari NU, Muhammadiyyah, dan yang lainnya sudah cukup Islami, karena landasan Pancasila adalah Mitsaq Madinah yang dirancang secara orisinil oleh Nabi SAW.

Sebagai piagam tertulis dengan didasari sifat wajib Fatlonahnya dan justru itulah menjadi Hadits Sohih berlandaskan wahyu. Saya pikir ini adalah anugerah dan kenikmatan Allah. “Nikmat Tuhan mana lagi yang akan kalian dustakan?” Jika ada yang menggugat atau meragukannya patut dipertanyakan kemahabbahannya kepada al-Habibil Mushtlofa, Muhammad SAW.

Masih ada sebagain umat Islam yang belum sampai pemikiran ke arah sana, baik yang pelan-pelan maupun yang kenceng-kenceng. Jangankan Ormas di luar NU dan Muhammadiyyah, di dalam NU dan Muhammadiyyah pun masih ada yang mempertentang Islam dan negara Pancasila, apalagi di luar NU dan Muhammadiyyah. Kira-kira itulah yang menjadi konteks pernyataan Jendral Tito yang dianggap sebagain yang menyinggung Ormas keagamaan lain, seperti yang diungkapkan oleh Tengku Zaenuddin, Wasekjen MUI.

Akan tetapi menurut ketua MUI, KH. Ma’ruf Amin (Tempo.co/Rabu, 31 Januari 2018) mengatakan, video pidato Tito yang sempat viral bertempat di pesantren NU di Banten, 8 Februari 2017. Saat itu, dalam rangka MoU dengan NU dan membahas peran ulama dalam mengawal persatuan serta keutuhan bangsa. “Konteksnya itu dalam rangka menghadapi radikalisme, isu khilafah, dan trans nasional yang waktu itu agak kencang,” katanya.

Masih menurut Kyai Ma’ruf, Tito tidak bermaksud menafikan Ormas Islam selain Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

Adapun Wakil Sekretaris Jenderal MUI Tengku Zulkarnain soal protes Tengku terkait pidato Kapolri. Menurut Kyai Ma’ruf, Tengku sudah dapat memahami hal tersebut. “Dia sudah paham, sudah tak ada masalah, sudah diklarifikasi,” (Balai Kartini Jakarta Rabu, 31 Januari 2018). (Penulis merupakan Ketua PC. GP Ansor Kab. Cianjur, periode 1990-2010, dan Wakil Sekretaris PCNU Kab. Cianjur, periode 2017-2022)

Leave your vote

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0,000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0,000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CianjurUpdate.co tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Input your search keywords and press Enter.

Hey there!

Forgot password?

Don't have an account? Register

Forgot your password?

Enter your account data and we will send you a link to reset your password.

Your password reset link appears to be invalid or expired.

Close
of

Processing files…

Scroll Up
error: Content is protected !!